Nama Film ( Duta Cangkul ) di bioskop bioskop indonesia Coming Soooooonnnn ^_^
serentak di indonesia Tanggal 32 Mei 2016 ^_^ Harga Tiket 50ribu / tiket
MASIH ingat tragedi Eno Parinah (19) yang tewas mengenaskan karena pembunuhan disertai pemerkosaan? Setelah diselidiki, pelaku akhirnya ditemukan. Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Tangerang Ajun Komisaris Besar Sutarmo, pelaku pembunuhan itu terdiri dari tiga orang.
Ketiga orang tersebut adalah RA (15), R(20), dan IH (24). Ketiganya mengakui telah melakukan kekerasan fisik dan seksual pada Eno. “Ketiganya telah mengakui peran masing-masing dalam rekonstruksi yang dilakukan tadi malam,” ujar AKBP Sutarmo, Senin (16/5)
Parahnya, RA, yang merupakan tersangka utama masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan belum mempunyai pekerjaan. RA berhasil ditangkap pada hari Sabtu malam (14/5) sekitar pukul 23.30 WIB.
RA, tersangka utama masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (foto : kriminalitas)
Peristiwa pembunuhan sadis tersebut bermula ketika RA main ke mes korban. RA merupakan pacar korban yang diketahui menjalin kasih sebulan yang lalu. Sebelum peristiwa nahas itu terjadi, pasangan ini bercumbu. Kemudian RA meminta Eno untuk berhubungan intim atau making love(ML), tetapi korban menolaknya.
Sakit hati dengan penolakan korban, RA memanggil kedua kawannya yang berada tak jauh dari mes korban. Lalu tiga tersangka memperkosa wanita berusia 19 itu secara bergantian. “Ditemukan banyak sperma di kamar korban” jelas Suparmo
Selanjutnya, pria yang berinisial IH langsung membungkam wajah korban menggunakan bantal dan menyuruh temannya yang lain mencari pisau di dapur.
Karena tak menemukan pisau, RA pergi ke luar kamar mencari benda tajam lainnya. Ia kemudian melihat cangkul tergeletak tak jauh dari mes korban.
RA memasukan gagang cangkul ke organ vital korban ketika korban masih hidup. (foto : pojoksatu)
Tersangka R dan IH kemudian memegangi paha korban, sementara RS memasukan gagang cangkul ke kemaluan korban dengan cara ditendang. Saat itu korban masih dalam keadaan hidup.
“Sebelum itu, mereka juga menggigit buah dada korban. Kemudian, membunuh dan menelanjangi korban. Usai menjalankan aksi, pelaku kemudian menutupi badan korban menggunakan pakaian milik korban,” terangnya seperti yang dilansir Tribratanews.com.
Dari hasil visum sementara, tubuh korban ditemukan beberapa luka lain selain gagang cangkul yang tertancap di kemaluan. Namun polisi masih terus mencari penyebab yang membuat korban meregang nyawa.
Sementara itu, keberhasilan polisi menangkap pelaku, mulai menunjukkan hasilnya pada Minggu (15/6). Ketika itu, polisi menangkap tersangka lantaran mengantongi handphone Eno. “Kami dapatkan handphone korban di kantong celananya. Yang bersangkutan, dalam 1 x 24 jam, sedang diinterogasi di Jatanras (Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan) Polda Metro Jaya,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Awi Setiyono dalam pesan tertulisnya.
Eno, tewar mengenaskan (foto:istimewa)
Tak habis pikir nalar ketiga pelaku yang mudah melancarkan aksi brutal dan tak manusiawi. Apalagi, salah satu tersangka merupakan anak di bawah umur. Aparat penegak hukum harus berbuat tegas. Kalau perlu, jatuhkan hukuman yang bisa menimbulkan efek jera. Bukan hanya pada pelaku namun pada orang lain yang ingin melakukan kejahatan serupa. (IF)
Tri Rismaharini Walikota Surabaya sempat berbincang dengan delapan pelaku pencabulan terhadap anak 13 tahun di Surabaya.
Walikota sempat bertanya pada MI (9) tersangka paling kecil yang masih duduk di kelas 3 SD. Ia menanyakan siapa yang mengajari berbuat tidak senonoh itu, pelaku menjawab belajar dari warnet dekat rumah di Kalibokor Kencana kecamatan Gubeng Surabaya.
Walikota mengatakan, maraknya pencabulan ini bukan hanya tugas Pemkot saja, tapi orang tua dan lingkungan sekitar harus berperan aktif.
"Peran orang tua harus lebih aktif mengontrol anak dan keluarganya," katanya di Mapolrestabes Surabaya, Kamis (12/5/2016).
Kata Risma, kasus pencabulan beramai-ramai ini ada kaitannya dengan Dolly. Sebab, ibunya korban merupakan mantan PSK Dolly.
"Setelah Dolly ditutup, dia dititipkan ke saudaranya di daerah Kalibokor," katanya.
Risma juga mengintruksikan warnet daerah Kalibokor yang menyimpan video porno ditutup.
Sementara itu, Kombes Pol Iman Sumantri Kapolrestabes Surabaya mengatakan, proses hukum anak-anak ini tetap diproses sesuai undang-undang perlindungan anak.
Sebelumnya diberitakan, Polrestabes telah mengamankan delapan anak di bawah umur yang terbukti telah melakukan pencabulan terhadap salah satu anak berusia 13 tahun. (bid/rdy/rst)